Sejarah aliran kepercayaan di Indonesia dan sinkretisme

Bismillahirrahmanirrahim.

             Pada tahun 2017 kemarin, aliran kepercayaan merupakan sebuah topic perbicaraan yang sangat hangat pada waktu itu. Mereka memperdebatkan apakah aliran kepercayaan ini bisa dimasukkan dalam KTP? Sehingga memasukkan aliran kepercayaan dalam kolum agama. Ketua MUI pada waktu itu, Ma’aruf Amin merupakan salah seorang yang menyanggah pendapat tersebut dengan mengatakan bahwa “aliran kepercayaan bukan merupakan sebuah agama sehingga tidak pantas kiranya memasukkan aliran kepercayaan”. Namun Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan bahwa ketentuan UU Administrasi Kependudukan yang menyebut penganut kepercayaan mengosongkan kolom agama di KTP, bertentangan dengan UUD 1945. Karena itu, kepercayaan bisa masuk di kolom agama di KTP.

            Aliran kepercayaan itu sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), adalah paham yang mengakui adanya Tuhan yang maha esa, tetapi tidak termasuk atau tidak berdasarkan ajaran salah satu dari kelima agama yang resmi (islam, katolik, kristen protestan, hindu dan buddha). Data Kemendikbud 2017 menyebutkan, saat ini ada 187 aliran kepercayaan yang tersebar di 13 provinsi di Tanah Air. Mendengar dan mengetahui data ini saya sedikit beremang karena mengetahui di Indonesia ini sebanyak itu bentuk aliran kepercayaan.

            Banyaknya aliran kepercayaan yang timbul ini bermula dari sebuah pemikiran manusia, norma dan hukum pribadi maupun masyarakat, ataupun sebuah keyakinan dalam hati kemudian itu semua ditulis dalam buku di ikuti banyak orang. Karena,pemikiran manusia,norma dan hukum dan keyakinan dalam hati tiap manusia berbeda. Maka muncullah banyak agama ,aliran ,pemikiran ,kepercayaan dan ideology. Entah itu kepercayaan kepada tuhan yang satu atau dua atau tiga atau banyak tuhan atau kepercayaan kepada kultus individu atau benda keramat ,jimat ,keris,kuburan,patung atau atheisme atau agnostikme atau gnostik atau kepercayaan kepada roh nenek moyang atau surga neraka atau alam roh atau hari berbangkit atau kiamat atau akhirat atau percaya kepada diri sendiri/optimisme. Sekiranya keyakinan tak ditulis tak diucap tak digambarkan dalam wujud karya tulis karya seni patung lukisan maka tak ada yang tau apa keyakinan dalam dada manusia.

            Yang sangat dikhawatirkan lagi adalah terjadinya sinkretisme yang mana sinkretisme ini suatu proses perpaduan yang sangat beragam dari beberapa pemahaman kepercayaan atau aliran-aliran agama. Pada sinkretisme terjadi proses pencampuradukkan berbagai unsur aliran atau paham, sehingga hasil yang didapat dalam bentuk abstrak yang berbeda untuk mencari keserasian, keseimbangan sehingga mereka mencampurkan agama mereka dengan kepercayaan-kepercayaan mereka sehingga timbul amalan-amalan bidah.

            Hal ini merupakan sebuah PR bagi para penda’i untuk menghilangkan dan memusnahkan senkretisme di Indonesia ini walaupun pada hakikatnya merupakan tugas yang sangat sulit untuk menghilangkan suatu budaya dan kepercayaan yang sudah mendarah daging.

penulis: ahmad ghozi al afnan (mahasiswa studi agama-agama)

 77 Kunjungan,  1 Kunjungan hari ini

Like & Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*